Abu Haniif's blog

Aqidah Shahihah, jalan utama Istiqomah diatas Sunnah.

بسم الله الرحمن الرحيم

Senin, 11 Desember 2017

Tujuan Pendidikan bag.2

Jika seorang anak gagal masuk syurga, gagal menjadi sholeh, gagal menjadi ta`at, tujuannya tidak terpenuhi, maka yang pertama kali harus bertanggung jawab adalah orang tua. Ini disampaikan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Tuhfatul Maudud. Beliau menyatakan hasil riset, hasil penelitian beliau sekaligus didukung oleh ayat - ayat Alquran dan hadist nabi Shalallahu `alaihi wa salam. Kata beliau "mayoritas anak yang gagal, yang akhlaknya rusak, yang akhlaknya buruk, yang kasar kalau bicara, yang gak berprestasi, yang gak mau sholat, yang ketika sudah baligh gak mau menutup aurat. Faktor utama kegagalan mereka adalah ayah dan ibunya.  Ibnu Qoyyim enggak mengatakan pihak SEKOLAH, enggak. Ibnu Qoyyim enggak mengatakan LINGKUNGAN, banyak pakar yang mengatakan yang merusak ini lingkungan, enggak. Orang tua yang pertama kali merusak anak. Dan ini wahyu, bukan sekedar riset belaka. Nabi bersabda dalam hadist Bukhori yang sangat terkenal;

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim)

Arti fitrah itu banyak loh, diantaranya Islam, siap menerima kebenaran, kalau bahasa kita siap dididik, siap diajari, siap belajar, ini bukan kata saya, ini sabda nabi lho ya. Tapi yang jadi masalah adalah kedua orang tuanya menjadikan dia Yahudi atau menjadikan dia Nasrani. Banyak orang ketika mengulas hadist ini, hanya mengaitkan dengan agama, dan ini keliru. Ulama ketika menjelaskan hadist ini, membedah, mengungkapkan penyebutan Yahudi, Nasrani dan Majusi itu sebagai `sample` , hanya sebatas `sample`. Karena kerusakan yang paling parah menurut kaca mata islam itu kerusakan apa ?, kerusakan iman, kekufuran, kesyirikan. Nabi ingin menjelaskan bahwa seluruh kerusakan yang dialami oleh anak itu sumber utamanya orang tua. 

Artinya apa?, ketika anak di usia remaja mulai menghisap rokok, mulai menghisap gorila, mulai beralih ke ganja, setelah ganja putau, punya duit dikit shabu, jangan salahkan bandar, Nabi mengatakan Orang tua itu. Itu ada masalah dalam pendidikannya di dalam rumah. Itu karena di awal basic gak diajarin, tidak diajarkan iman, tidak diajarkan muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah). Yang diajarkan kalau ketahuan Papah gimana nak ?, bukan diajarkan kalau ketahuan oleh Allah Subhanahu wa ta`ala. Itu semua orang tua, ketika anak hamil di luar nikah, itu orang tua, jangan salahkan pacarnya. Karena ini proses bertahun - tahun. Anak yang basic agamanya kuat di rumah itu gak akan kena masalah seperti itu, itu yang ingin disampaikan oleh Nabi kita. 

Oleh karena itu, awal semua dari orang tua. Yang menjadikan anak murtad itu orang tua kata Nabi. Yang menjadikan anak maksiat itu orang tua. Yang menjadikan anak bohong itu orang tua. Pokoknya kalau ada tante fulan bilang aja mamah gak ada. itu kan ngajarin bohong. karena gak mau ditagih uang arisan misalnya. Kita ini sepertinya dididik untuk gampang nyalahin orang lain. Padahal Nabi menyatakan semuanya karena Orang tua, sebelum yang lain. Betul ada peran bandar disana, betul ada peran media disana, betul ada peran televisi, dan media televisi sekarang mendidik atau enggak ?, gak mendidik. Tapi kan yang membuat anak menonton kan orang tuanya. Yang kasih gadget siapa ? orang tua. Yang membuat dia dapat akses internet, lagi - lagi orang tua. Gara - gara bergaul sama anak teman, dia jadi pakai narkoba. Tapi yang enggak ngajarin konsep bergaul itu siapa ? orang tua. Yang tidak menjelaskan bagaimana kaedah memilih teman itu siapa ? lagi - lagi ayah ibunya. Ini kaedah umum, betul bukan kaedah mutlak, karena kita tau anak nabi Nuh itu bermasalah, tapi mayoritas sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu `alaihi wa salam. 

Anak itu adalah amanah, dan sebagaimana anak pertama atau anak kedua atau anak yang paling kecil kita bisa memasukkan kita ke syurga mereka jugalah pintu masuk kita ke dalam api neraka. Orang tua punya peran yang sangat vital. Makanya pada hari kiamat banyak para ulama mengatakan, yang pertama kali dihisab oleh Allah itu ibu bukan anak, ayah bukan anak. Ayah dan ibu pertama kali akan dihisab oleh Allah sebelum Allah menghisab anaknya. Sebelum Allah bertanya kepada anak - anak kita tentang birrul walidain, sudahkah dia berbakti kepada kepada kita, Allah bertanya dulu kepada kita orang tua, sudahkah memberikan hak anak. Sebelum anak ditanya tentang kedurhakaan dia kepada orang tuanya, Allah akan bertanya dahulu kepada orang tuanya, durhaka gak kepada anaknya. 

Makanya, kata Ibnu Qoyyim, anak yang gak diurus sama orang tuanya, akan mengatakan sebagaimana saya gak dididik waktu kecil, sebagaimana saya gak diajarin iman waktu kecil, sebagaimana saya tidak diajarkan agama waktu kecil, maka saya durhaka kepada kamu pada saat kamu tua wahai ayah dan ibuku. Itu yang dikatakannya. Dan sebagaimana engkau menelantarkan aku wahai ayah, sebagaimana engkau menelantarkan aku wahai ibu pada saat aku kecil, aku hanya main sama baby sitter, kalian sibuk kerja, sibuk bisnis online, dan lain - lain. Akhirnya aku gak punya teman, teman yang benar, saya gak pernah punya sosok teman dari ayah dan ibu saya, alfatihah saja saya belajar dari guru ngaji saya, bukan dari ayah ibu, maka saya pun akan menelantarkan ketika aya ibu tua nanti. Silahkan survey kasus anak - anak yang tidak memperhatikan orang tuanya ketika orang tuanya sudah tua, maka jawabannya dan sebabnya adalah karena orang tuanya ketika anak itu kecil  tidak memperhatikan anak - anak mereka. Kaedah agama mengatakan balasan amal itu tergantung jenis amal. Kita telantarkan anak kita pada waktu mereka kecil, maka kita akan ditelantarkan mereka pada saat besar nanti. 

Oleh karena itu, anak adalah amanah. Dan sunnatullah itu berlaku disetiap rumah - rumah kita. Kita didik anak kita dia akan berbakti kepada kita. Kita telantarkan anak kita, dia akan telantarkan kita. Kita gak punya waktu bermain dengan mereka disaat Sabtu dan Ahad, maka ketika mereka besar dan sibuk, mereka tidak punya waktu mengunjungi kita, pada saat kita tua nanti. 

Allah itu Al Hakim (Maha Bijaksana), makanya salah satu kebijaksanaan Allah adalah balasan tergantung jenis perbuatan. Allah tidak akan menzolimi, oleh karena itu sekali lagi untuk para orang tua (khususnya diri pribadi) dan untuk para pendidik pastikan kita berusaha menjadikan anak - anak kita masuk ke dalam syurga Allah, pastikan kita berusaha agar mereka dijaga dari siksa api neraka. 

Masalah sekarang, apa masalah terbesar ?, mayoritas kita jadi ayah, mayoritas kita jadi ibu bukan karena persiapan,  karena wanita yang kita nikahi itu melahirkan, maka kita jadi ayah ibu. Bukan karena belajar sampai S3 fakultas keayahan, ada fakultas keayahan disin ?, enggak ada. Saya ingin tanya ya, kira - kira untuk membuat tempe mendoan enggak pakai kursus, berasil gak ?, gak bisa. Lalu bagaimana dengan anak?, bagaimana dengan buah hati kita ?, mungkinkah kita memastikan dan mengawal mereka masuk ke syurga tapi kita gak belajar, kita tidak menuntut ilmu. Seperti sebelumnya kita pergi ke tanah abang gak boleh nanya, yang sebelumnya belum pernah ke tanah abang, pokok nya kamu pergi tanah abang, kira - kira bisa sampai ke tanah abang ?, gak akan bisa sampai. 

Lalu mungkinkah ke syurga juga demikian, kalau ke tanah abang aja gak bisa, kalau kita gak punya ilmunya. Kita harus tahu ilmu. 

Untuk menjadi montir saja perlu belajar, lalu mungkinkah kita sukses jadi ayah tanpa belajar, sedangkan kita jadi ayah 7x24 jam. Dan tidak ada solusi, karena kalau kita tidak belajar dan akhirnya anak kita gagal menjadi anak yang sholeh dan gagal masuk kedalam syurga, maka kita akan dihabisi oleh Allah pada hari kiamat kelak. 

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya.

Lalu Allah ajak bicara para suami, para ayah, kalian akan ditanya tentang istri dan anak - anak kalian kelak. kalau gagal maka neraka dihadapan kita. 

Surat Al-Fajr (89) ayat 25:

فَيَوْمَئِذٍۢ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌۭ
Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya.
Pembaca yang semoga dirahmati Allah, pada hari kiamat seluruh psikopat dikumpulkan, seluruh penguasa - penguasa tiran dikumpulkan, semua orang yang paling sadis dikumpulkan, dan Allah pastikan tidak ada satupun diantara mereka yang bisa menyiksa lebih pedih daripada siksa Allah Subhanahu wata`ala. 
Lalu bagaimana kita kalau tidak berhasil mendidik anak - anak kita sampai ke syurga. Oleh karena itu tanggung jawab kita besar. Anak bukan hanya sekedar penghibur kita, tapi ia amanah dari Allah Subhanahu wata`ala. yang harus kita bina, jaga dan harus kita kawal sampai masuk ke dalam syurga. Dan kita sudah terlambat nich, semua orang belajar nyetir dulu baru dapat SIM dan boleh bawa mobil. sedangkan kita belum bisa jawab pertanyaan ini. Apa konsep yang sudah kita ketahui ?, Apa sunnah nabi tentang tempat untuk mengedukasi anak?, Sudahkah kita tahu konsep memanggil anak sesuai dengan sunnah nabi ?, sudahkah kita tahu konsep memuji anak ?, sudahkah kita tahu bolehkah memerintah dan melarang anak ? karena semua fatal kalau kita enggak tahu dari awal. 
Dan anak kita akan terus tumbuh dari setiap hari dan dengan berjalannya waktu. Semakin kita tunda belajar semakin fatal. Kita harus belajar, mengkaji, karena membangun pondasi itu pada saat anak kita masih kecil, belum aqil baligh. Kalau itu hancur, maka semua akan hancur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar