Ada sebuah test dinas kesehatan di Jakarta. Test membuat sebuah laboratorium kesehatan. Yang menguji adalah tim independent, bukan orang - orang dinas. Dari ratusan pakar di lab tersebut yang mendaftar, ada lulusan S1, S2, S3 dan bukan hanya lulusan dalam negeri, sebagian lulusan luar negeri, yang diterima `hanya` dua orang.
Itu ketua atau orang yang paling bertanggung jawab dalam test itu bingung koq bisa hanya dua orang yang diterima atau lulus. Sedangkan ketua tersebut sudah mengeluarkan dana yang banyak dan pertanggungjawaban ketua tersebut langsung ke gubernur. Yang ada di benak ketua, nanti saya mau jawab apa?, kita masih butuh test lagi ?, gimana saya mempertanggungjawabkan dana yang besar itu. Akhirnya ketua ini bertemu dengan tim penguji. Komplain dia, koq bisa banyak yang gak lulus, dan yang saya dengar pertanyaan - pertanyaan yang penguji tanyakan sederhana lalu kenapa mereka gak lulus. Apa kata tim penguji tersebut, kami tahu yang test itu banyak para pakar, tapi yang jadi masalah adalah inkonsisten.
Mereka gak konsisten, dan yang kami tanya gampang, kami hanya bertanya, diambil sebuah benda di lab tersebut, dan ditanyakan kepada peserta test `ini benda apa ?`, `Anda pernah lihat benda ini ?`, dan kami tahu yang kami test ini pakar dibidangnya. Kembali diterangkan, Pak ketua kalau dia peserta test bilang dia gak pernah liat benda ini, kami langsung luluskan dia. Tapi jawaban dia pernah, maka kami punya pertanyaan kedua, `Anda tahu dan pernah menggunakan benda ini ?`. Pak ketua kalau dia bilang gak pernah, kami langsung luluskan dia. Tapi yang jadi masalah dia bilang pernah menggunakan dan bisa menggunakannya, maka kami punya pertanyaan yang ketiga `Tolong praktekkan ke kami bagaimana cara menggunakan benda ini !`, dan dia enggak bisa menggunakan alat tersebut. Langsung kami coret dia tidak lulus. Inkonsisten.
Inkonsisten artinya bohong. Dia enggak pernah menggunakan alat tersebut. Lalu pak ketua mengatakan `apa yang salah dari dia ?`, yang salah adalah pendidikan usia dininya. Karena itu yang membangun karakter, itu yang membangun pondasi, itu yang membangun kejujuran, dan ini konsep islam. Kalian bisa lihat bagaimana masa kecil Nabi Muhammad Shalallahu `alaihi wassalam. Masa kecil yang benar - benar terjaga.
Masa kecil adalah masa penanaman pondasi, kalau pondasi mereka rapuh, maka nanti akan hancur. Dan semua sepakat mau bangun apa saja, pondasi itu diawal, betul gak siy?. Bangun gedung / rumah, bangun pondasinya itu di hari keberapa?, hari yang ke seribu?, ditahun ke dua?, enggak, melainkan di hari pertama. Begitu juga dengan anak, membangun pondasi agar nanti pas mulai baligh mereka bersujud kepada Allah, agar pada saat baligh meyakini Allah maha melihat saya, itu diwaktu - waktu kecil. Lalu kita masih belum belajar pada saat mereka di usia tujuh tahun?, kita belum ngerti apa - apa ? pada saat mereka menginjak usia sepuluh tahun. Kalau kita enggak mulai dari sekarang, kita gak tahu apa jadinya sepuluh, dua puluh tahun kemudian.
Ini sudah terlambat, jadi harus ada kelas akselerasi. Untuk menangani komputer, itu belajarnya 4 tahun dan setiap hari, setiap hari 4 jam. Masuk akal gak, kalau menangani komputer harus belajar setiap hari, setiap hari 4 jam, lalu menangani manusia hanya sekedar itu seminar itu pun gak kontinyu dan sering gak datengnya, gak mungkin. Kalau dulu jaman komputer DOS misalnya, dan dihadapan ada 20 komputer, bisa ditangani sekaligus dengan menggunakan DOS, bisa. Tapi kalau manusia belum tentu, bisa menangani anak yang pertama, belum tentu bisa menangani anak yang kedua dan seterusnya. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang luar biasa. Itu penanganannya harus dengan ILMU.
Kita harus belajar, ini yang harus digugah. Belajar itu bukan ketika anak masuk SMA, tapi pada saat anak ini lahir, bahkan sebelum lahir, bahkan sebelum kita berhubungan. Nabi memuji wanita - wanita quraisy karena mereka mengerti salah satu konsep mendidik anak. Karena mereka sangat sayang dengan anak - anak mereka. Dan salah satu konsep mendidik anak adalah kita harus tangani anak kita dengan kasih sayang. Karena wanita quraisy mengerti konsep mendidik, dibanggakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu `alaihi wassalam. Jadi orang quraisy itu baik - baik, gak pake marah - marah, gak memukul, gak nyubit, dll. Itu dipuji oleh nabi kita.
Oleh karena itu sekali lagi, belajar, belajar, dan belajar. Seminar parenting itu harus digalakkan rutin, tidak bisa mengandalkan pendidikan anak di sekolah saja. Tanggung jawab terbesar ada di benak orang tua, sekolah itu mendukung. Jangan dibalik, karena yang akan ditanya pertama kali adalah ayah dan ibunya, bukan kepala sekolahnya.
Ada satu sekolah, dimana sekolah tersebut mempunyai program jika anaknya ingin belajar di sekolah tersebut, maka orang tuanya harus ikut program pendidikan untuk para orang tua. Kalau tidak anaknya akan dikeluarkan. Mau anaknya siapa kek dikeluarkan, kenapa ? karena tidak mungkin sekolah berhasil mendidik kalau tidak didukung oleh orang tua. Tidak mungkin sekolah berhasil menanamkan sopan santun, tapi ketika di rumah beda lagi. Tidak mungkin sekolah berhasil mendidik anak - anak TK atau anak SD mandiri pakai sepatu kalau nanti pas pulang dirumah dipakaikan sama orang tuanya. Karena beda konsep, jadi itu harus. Karena penting mendidik. Kalau ada orang tua di sekolah tersebut, ada orang tuanya ayah atau ibu itu kerja. dan dikabarkan untuk ikut menghadiri program mendidik dari sekolah namun orang tuanya selalu berhalangan hadir, maka anaknya dipending untuk bisa belajar di sekolah tersebut alias dikeluarkan dari sekolah.
Karena untuk mengajarkan ilmu kognitif itu bisa, tapi mengjarkan karakter nggak bisa hanya mengandalkan pendidikan dari sekolah saja, melainkan kedua belah pihak bersinergi, sama visi maupun misi. Kalau tidak ya enggak bisa. Dan ini untuk kebaikan kita semua. Dan ini contoh yang menarik untuk kita pikirkan. Walaupun tidak serta merta kita praktekkan besok begitu ya.
Intinya kita harus belajar, belajar, dan kita harus belajar.
Ketika kita berbicara tentang tujuan. Kita dari Bekasi mau ke Tanah Abang, otomatis kita harus berbicara bagaimana cara agar bisa sampai ke Tanah Abang. Apa alat transportasinya ?, Apa medianya ?, Oo alat transportasinya tadi kereta. Begitu juga kalau kita ingin mengantar anak kita ke syurga. Kita harus tahu apa perangkat dan alat transportasi yang akan memasukkan anak itu ke syurga. Apa yang harus ditekankan?, apa yang menjadi filosofi?, apa yang menjadi prinsip dasar pendidikan ?, dan ini sudah diajarkan oleh Allah dan RosulNya.
Karena kalau kita lihat diluar, konsep pendidikan banyak. Ada konsep bilingual, jadi anak keluar dari sini bisa bahasa indonesia bisa bahasa inggris. Ada konsep lagi multiple inteligent, ada konsep lagi cambridge, dan banyak konsep yang ditawarkan disana. Lalu pertanyaannya `Apa konsep yang ditawarkan oleh Allah dan RosulNya ?,`
Mari kita simak bagaimana nabi mendidik para sahabat. dalam hadist yang dikeluarkan oleh Baihaqi, Hakim, dari Jundub, salah satu dari sahabat, beliau menceritakan bagaimana nabi mendidik mereka,
`Pada saat itu, kita masih anak - anak menjelang aqil baligh, pada saat umur kita demikian Nabi mengajarkan kami iman sebelum Alquran`
Ini sekolahnya nabi, nabi mengajarkan iman sebelum mengajarkan Alquran. Setelah iman kita kokoh kata Jundub, baru Nabi ajarkan Alquran, ajarkan bagaimana tahsin, bagaimana tajwid, mengenalkan huruf hijaiyah, lalu mulai hafalan, lalu menulis ayat - ayat Alquran, maka iman kita bertambah. Lalu kita simak penjelasan lanjut dari Jundub, kata Jundub;`Sekarang ini, ada sebagian orang mereka sibuk mempelajari alquran sebelum iman, dan itu keliru. Tidak bermanfaat kalau caranya begitu.
Sekarang, banyak program tahsin alquran, anak harus hafal beberapa juz, tapi tidak disentuh iman nya. hasil dari program ini mereka hafal quran, tapi enggak manfaat sama sekali kata Ibnu Umar Mubarok. Ini yang perlu kita renungkan. Sebagian sekolah islam, ketika ditanya programnya, kalau program kami hafalan, bandingan dengan ucapan dua sahabat diatas, kira - kira tepat apa tidak ?. Iman bukan hafalan, itu konsep nabi, kalau kita ingin mengikuti sunnah nabi, ikuti filosofinya, ikuti konsepnya. Banyak ibu - ibu yang sudah belajar, yang jadi parameter anak adalah hafalan, bukan iman anak. Dan begitu bangga ketika anaknya berhasil menghafal juz 30, tapi enggak jujur, tapi tidak memahami tentang konsep waktu, belum yakin bahwa Allah itu melihat dan mendengar, berbeda dengan anak - anak kecil pada zaman nabi shalallahu `alaihi wassalam. Hafalan itu penting, tapi itu bukan utama untuk mendidik anak. Hafalan itu penting, tapi bukan itu yang dinomorsatukan.
Ketika kita membangun sebuah sekolah hafalan itu penting, tetapi bukan menjadi segalanya, yang menjadi segalanya adalah IMAN, itu konsep pendidikan. Dan yang dimaksud iman ini, bukan iman secara teori, tapi bagaimana seorang anak benar - benar meresapi. Saya ingin bertanya apakah ketika nabi bersama Abdullah ibnu Abbas, nabi menanyakan dan mengecek hafalan nya?, enggak. Nabi katakan ;
عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ
خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ:
((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ،
احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ،
وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ
اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ
بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ
يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ
عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ
الصُّحُفُ))
Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
Siapa orang tua yang sudah mengajarkan seperti diatas?, atau siapa orang tua yang sudah mengajarkan, nak kalau kamu butuh apa - apa, angkat tangan seraya berdoa minta sama Allah, atau kita mengatakan kamu tahu nomer telephon papah kan nak ?, jadi malah diarahkan ke papahnya, bukan diarahkan kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Apa yang disampaikan oleh orang tua ketika orang tuanya mau pergi haji selama 40 hari misalnya, nak kalau kamu laper ini ada nomer telephon tante fulanah ya, kamu tinggal telfon, mama udah bilang nanti makanan diantarkan. Siapa diantar kita yang mengatakan, nak kalau kamu laper angkat tangan minta kepada Allah Subhanahu wata`ala lalu hubungi tante fulanah. Ini adalah IMAN, ini konsep Nabi Shalallahu `alaihi wassalam. Siapa yang mengajarkan kepada anak kita, kalau kamu dibully di sekolah minta kepada Allah lalu hubungi mamah atau kamu nak harus cerita ke mamah ya kalau kamu di bully di sekolah. Anak itu dibuat dekat kepada Allah Subhanahu wata`ala.
Walau teori itu penting, tapi anak jangan dikasih teori melebih porsi praktek dan kehidupan kesehariannya. Itu yang diajarkan Nabi, minta kepada Allah. Lalu lihat bagaimana nabi menanamkan ketawakalan, keyakinan kepada Allah. Kata nabi kepada Abdullah ibnu Abbas, nak kalau seluruh manusia ini bersepakat untuk membantu kamu, mensupport kamu, maka mereka tidak akan berhasil kecuali apa yang Allah takdirkan kepada kamu. O luar biasa, kalau sedari kecil sudah ditanamkan nilai - nilai ini, insyaAllah dia tidak akan menjilat, dia tidak akan ngemis sama manusia. Karena dia tahu jangankan satu orang kaya namun seluruh orang kaya menjadi donatur dia, gak ada manfaatnya kecuali apa yang Allah takdirkan kepada dia. Itu kan IMAN, itu ketaqwaan. Tanpa harus diwajibkan hafal berapa juz, dan seterusnya. Itu yang susah. Itu yang berat. Bagaimana menanamkan demikian. Dan nabi mengatakan lagi, jika seluruh manusia bersepakat untuk menjatuhkan kamu, mencelakai kamu, mereka tidak akan berhasil kecuali apa yang Allah takdirkan kepada kamu.
Kalau anak dari kecil ditanamakan filosofi seperti ini, maka pada saat dia dewasa dia tidak akan takut orang, dia tidak akan takut sama manusia, dia hanya takut kepada Allah. Karena dia tahu, seluruh mafia berkumpul untuk membunuh dia, tidak akan berhasil kecuali apa yang Allah takdirkan kepada dia. Itu yang harus kita tanamkan, keimanan sebelum yang lain. Kemimana sebelum matematika, fisika, kimia, dan seterusnya.
Bagaimana dia menghadapi hidup, makanya sebagian pakar pendidikan mengatakan, Ilmu atau wawasan koqnitif, itu gampang. Itu gak harus di awal, itu bisa nanti nanti. Walaupun penting tapi bukan itu intinya. Intinya mempersiapkan karakter, mempersiapkan iman, itu yang susah. Bangsa kita gak kehabisan stok pakar fisika, kimia, tapi kita kehabisan stok orang jujur, orang yang takut kepada Allah, orang yang merasa dipantau oleh Allah Subhanahu wata`ala. Kalau semua orang takut kepada Allah, kita gak butuh CCTV, itu karena gak ada iman, itu yang harus kita tanamkan. Dan itu konsep nabi. Sample kita sekarang, itu bukan sample pakar pendidikan dari universitas luar, ini sample nabi shalallahu `alaihi wassalam. Itu yang ditanamkan, sebelum yang lain.
Kalau setiap anak yakin dengan nilai seperti ini dan senantiasa ditanamkan oleh ibunya, maka akan mudah menjelaskan tentang masalah pesta - pesta yang ada di luar, akan mudah menerangkan tentang bahaya kehidupan hedonis, tentang dunia hiburan, karena dia tahu kalau dia tidak memanfaatkan waktu atau kondisi dimana dia lapang, dia senang, untuk mendekat kepada Allah, maka Allah akan lupakan dia pada saat dia susah. Itu yang penting.
Lalu nabi mengatakan apa yang ditakdirkan kepadamu itu tidak akan meleset nak, dan apa yang meleset gak akan kena. Maka gak akan ada lagi kita temui kasus anak nge-drop karena tidak lulus ujian nasional karena dia tahu selama dia sudah berusaha maka ini takdir yang harus dia jalani. Gak ada istilah pingsan. Gak ada istilah takut menghadapi hidup, gak ada istilah down, gak ada istilah minder, ketika menghadapi lingkungan karena pondasinya sudah dipaparkan oleh nabi kita shalallahu`alaihi wassalam.
Iman ini yang terpenting, bagaimana menghadapi hidup, bukan bahasa inggris, bukan matematika, bukan fisika, bukan kimia. Sebagian pakar itu mengatakan bahwa masa depan itu `blind zone`, zona yang gelap, gak jelas, belum tentu, oleh karena itu jangan terlalu mengandalkan disiplin ilmu tertentu. Yang harus kita persiapkan, siapkan iman dan mental mereka untuk menghadapi zona itu. Karena kita sudah ngalamin. Yang penting kita menjadi iman dan bertaqwa, karena Allah berfirman tentang orang yang beriman dan bertaqwa;
{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
Tapi kalau kita hanya ajarkan sebuah disiplin ilmu, itu belum tentu bisa dipakai nanti pada hari dia dewasa, apalagi semua berubah, tenologi berubah. 6011
Bersambung insyaAllah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar