Bismillah...
Alhamdulillah hamdan katsiran toyyiban mubarokan fiih, kama yuhibbu robbuna wa yardho, wa sholatu wassalamu ala nabiyina Muhammad wa `ala alihi washahbihi wa man sara `ala najihi bi ihsanin ila yaumiddin, amma ba`du.
Tidak ada kata yang pantas yang kita ucapkan pada saat ini kecuali bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta`ala atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada qudwah dan uswah hasanah kita, nabi besar Nabi Muhammad Sholallahu `alaihi wa salam beserta para keluarganya, para sahabat beliau dan orang - orang yang istiqomah berjalan dibawah naungan sunnah beliau sampai hari kiamat kelak.
Pada kesempatan kali ini, sengaja diangkat tema tentang pendidikan. Berbicara pendidikan, berbicara hal yang sangat besar dan panjang. Berbicara tentang pendidikan, kita berbicara tentang profil nabi kita tercinta, nabi besar Nabi Muhammad Sholallahu `alaihi wa salam. Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ …
‘Sesungguhnya kedudukanku terhadap kalian seperti kedudukan seorang ayah, aku mengajari kalian semua….’”.
Jadi, tugas nabi selama 23 tahun itu mendidik. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kita akan berbicara beberapa hal penting dalam masalah pendidikan. Hal pertama dalam masalah pendidikan adalah TUJUAN, ya TUJUAN PENDIDIKAN.
Setiap orang tua, sebelum memasukkan anak kita ke sebuah sekolah atau ketika kita sebagai orang tua kita memiliki anak, `tujuan kita memiliki anak ini apa sih ?`. Kenapa kita memasukkan anak kita ke sekolahan tertentu, tujuannya untuk apa ?, sekolah itu banyak, konsep sekolah itu banyak, dan kenapa kita memasukkan anak kita ke sekolah. Itu harus kita jawab, begitu juga dengan para guru ketika seorang guru mendaftarkan diri sebagai seorang guru, apa tujuan guru ?.apakah gaji ?, atau tunjangan kesehatan?, atau mungkin yang single ingin dapat jodoh. atau ingin mendapatkan pengalaman?, begitu juga dengan yayasan. Ketika yayasan membuat sekolah, apa tujuan yayasan ?, apakah ingin mendapatkan profit ?, karena bisnis sekolah itu bisnis yang menggiurkan dan menarik, atau hal yang lain.
Pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta`ala, TUJUAN menentukan semuanya. Analogi sederhana, ketika kita keluar dari rumah menentukan TUJUAN itu menentukan semuanya. Ketika contoh, dari Bekasi mau ke Tanah Abang, berarti ada sesuatu yang dipakai untuk menuju ke tanah tanah abang.
Contohnya kita menggunakan KRL, dari stasiun Bekasi menuju ke stasiun Manggarai, kemudian transit pindah ke KRL ke arah stasiun Tanah Abang. Tapi ketika kita ingin keluar dari rumah kita menuju Bandung, maka kita tidak akan menginjakkan kaki kita di statsiun Manggarai apalagi Tanah Abang. Semua berubah, kita akan cari bus menuju Bandung atau mungkin dari stasiun Bekasi langsung menuju ke stasiun Bandung. Intinya semua berubah, alat transportasinya berubah, biayanya berubah jarak tempunya berubah, pemandangan yang kita lewati berubah. Semuanya berubah karena beda TUJUAN.
Apalagi dalam masalah pendidikan, semua sangat dipengaruhi dengan TUJUAN. Tujuanlah yang mempengaruhi penerimaan seorang guru, kriteria seleksi anak ketika memasukkan anak itu ke sekolah. Tujuanlah yang mempengaruhi sekolah mana yang kita pilih dari sekian banyak sekolah yang ada. Tujuanlah yang mempengaruhi kurikulum, mempengaruhi pelajaran, tujuanlah yang mempengaruhi fasilitas, tujuan yang mempengaruhi metode dan pola asuh. Semuanya bergantung pada tujuan.
Oleh karena itu, kalau kita ingin sukses menjadi seorang ayah, ibu, guru, pendidik, atau membangun sebuah sekolah pastikan dari awal apa tujuannya.
Makanya salah satu kekeliruan seseorang yang ketika survei suatu sekolah yang pertama kali ditanyakan adalah fasilitas, fasilitas penting tapi bukan hal yang paling penting. Yang paling pertama harus ditanyakan adalah tujuan. Kita ambil contoh lagi, ketika kita melihat sebuah bus, dan kita sedang berdiri di halte jangan memperdebatkan ini bus ada AC nya atau tidak, tapi tanyakan bus ini mau kemana tujuannya. Itu yang pertama kali harus kita tetapkan. Ketika kita mau beli tiket pastikan tujuan kita tepat tidak perlu bicara apakah tempat duduk di kelas bisnis masih ada atau tidak, tidak perlu langsung berbicara apakah ada `first class` atau tidak. Pastikan dulu pesawat yang akan kita naiki sesuai dengan tujuan yang kita mau. Adapun fasilitasnya itu berikutnya.
Oleh karena itu, pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, ketika Allah dan nabinya Shalallahu `alaihi wa salam berbicara pendidikan, berbicara tentang anak, berbicara tentang buah hati sangat jelas. Yang disorot di dalam Alquran dan sunnah, yang pertama kali adalah TUJUAN, sebelum yang lain. Bukan sekolah itu mahal atau murah, bukan berapa banyak lapangannya, bukan ada kolam renang atau tidak, bukan yang lain - lain, melainkan adalah TUJUAN.
Allah Subhanahu wa ta`ala berfirman dalam QS. At Tahrim ayat 6,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka.”
Inilah firman Allah ketika berbicara tentang keluarga, tentang anak, tentang buah hati, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka.
Dari sinilah lahir sebuah TUJUAN PENDIDIKAN, tujuan pendidikan adalah menjauhkan dan menjaga anak - anak kita dari siksa api neraka. Bukan pinter bahasa inggris, itu bukan tujuan pendidikan. Ada salah satu sekolah yang bertujuan untuk menjadikan khalifah yang pinter berbahasa inggris. pertanyaannya apa hubungannya jadi khalifah dengan bahasa inggris. Kalau khalifah bisa dengan bahasa inggris itu orang - orang british seharusnya jadi pemimpin, ternyata enggak. Ternyata banyak mereka yang rusak, dan yang jadi pemimpin juga tidak bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta`ala.
Banyak orang masuk ke sekolah karena bertaraf internasional, bukan. Tujuan pendidikan adalah menjaga anak - anak kita dari api neraka. Yang paling mengerti pendidikan Rabbul `alamin, yang paling mengerti anak - anak kita, tumbuh kembang mereka, perkembangan fisik atau psikis mereka adalah Al Khalik Pencipta mereka, maka kembalilah kepada Alquran, kembalilah kepada konsepnya Allah Subhanahu wa ta`ala. Jagalah diri kalian serta keluarga kalian dari siksa api neraka. Ini tujuan pendidikan.
Oleh karena itu para orang tua kita harus melakukan banyak hal agar anak kita lolos dari siksa api neraka, agar anak kita masuk ke dalam syurga. Tujuan pendidikan masuk ke dalam syurga. Dan ketika kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah, pertanyaannya adalah apakah konsep dan sistem sekolah menunjang dan mensupport kita sebagai orang tua untuk mencapai tujuan tersebut. Masuk ke dalam syurga dan lolos dari siksa api neraka. Itu yang menjadi masalah, PR besar dan yang harus kita pastikan ketika kita mendidik anak, bukan yang lain. Yang lain bisa menyusul, dan begitu juga dengan pihak sekolah, pada saat kita membangun sebuah sekolah usia dini misalnya TK, SD, dan seterusnya. Mulai dari yayasan sampai guru pastikan ketika kita bergabung ke sekolah tersebut PR besar kita bagaimana anak - anak didik kita lolos dari siksa api neraka, bagaimana anak - anak didik kita masuk ke dalam syurga Allah Subhanahu wa ta`ala.
Apa basic atau dasar yang bisa kita tanamkan ke dalam hati mereka?, apa konsep yang bisa berikan pada saat mereka kecil, sehingga menjadi pondasi yang matang dan ketika mereka aqil baligh mereka bisa menjaga diri mereka dan masuk ke dalam syurga Allah Subhanahu wa ta`ala. Ayat yang lain para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, doa yang selalu kita baca, orang tua enggak boleh lupa baca doa ini, yaitu QS. Al Furqan ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al-Furqan: 74)
Bahwa orang - orang beriman itu selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta`ala, dengan doa diatas. kemudian anak menjadi suatu kebahagian bagi kita ketika mereka ta`at kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Dan anak menjadi kebahagian kita di akhirat kelak nanti ketika mereka masuk ke dalam syurga. Nah itulah TUJUAN.
Kita punya anak itu biar kita bahagia, bukan ngerepotin, bukan nanti ngelunjak, bukan nanti durhaka, bukan nanti galakan dia daripada kita. Tujuan kita punya anak itu agar kita bahagia, dan bagaimana agar kita bahagia dia harus ta`at kepada Allah. Dan dengan dia ta`at kepada Allah, dia akan berbakti kepada kita di dunia dan dia akan mendoakan kita pada saat kita meninggal dunia, dan dia akan masuk ke dalam syurga bahkan mungkin akan memasukkan kita ke dalam syurga saat kita di hari kiamat kelak. Itu tujuan kita memiliki buah hati tersebut.
Oleh karena itu para orang tua, pendidik, ini yang harus ada di benak semua pendidik. Tujuan kita mencetak anak yang ta`at kepada Allah, anak yang sholeh, sehingga dia membahagiakan orang tuanya setelah dia membahagiakan diri mereka sendiri dan pada hari kiamat nanti dia akan masuk ke dalam syurga. Ini tujuan utama dari sebuah pendidikan. Pendidikan di rumah dan pendidikan di sekolah.
Apalagi sekolah yang bernafaskan sekolah Islam, dia harus tahu tujuan ini. Dan tujuan ini tidaklah mudah, tujuan ini berat, tujuan ini sulit, dan banyak yang gagal, banyak yang jatuh, bahkan yang sukses hanya minoritas. Hanya minoritas orang tua dan minoritas pendidik yang berhasil menjalankan misi ini sehingga sampai kepada tujuannya tersebut. Karena banyak ayat, banyak hadist mengatakan bahwa mayoritas orang tidak ta`at kepada Allah, mayoritas orang tidak bersyukur kepada Allah. Makanya ketika Allah dan RasulNya menjelaskan tentang orang - orang yang ta`at apa kata nabi Shalallahu `alaihi wa salam;
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).
Orang asing itu artinya minoritas, orang asing itu artinya sedikit, tapi beruntunglah orang yang dianggap asing tersebut. Ini menunjukkan PR kita berat, PR kita susah. Dan orang tua yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta`ala, fakta ulama menyatakan jika terjadi kegagalan pada seseorang anak atau manusia ketika dia dewasa dan jika seorang anak gagal masuk syurga, gagal menjadi sholeh, gagal menjadi ta`at, tujuannya tidak terpenuhi, maka yang pertama kali harus bertanggung jawab adalah orang tua. Ini disampaikan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Tuhfatul Maudud. Beliau menyatakan hasil riset, hasil penelitian beliau sekaligus didukung oleh ayat - ayat Alquran dan hadist nabi Shalallahu `alaihi wa salam.
bersambung insyaAllah...
Apalagi dalam masalah pendidikan, semua sangat dipengaruhi dengan TUJUAN. Tujuanlah yang mempengaruhi penerimaan seorang guru, kriteria seleksi anak ketika memasukkan anak itu ke sekolah. Tujuanlah yang mempengaruhi sekolah mana yang kita pilih dari sekian banyak sekolah yang ada. Tujuanlah yang mempengaruhi kurikulum, mempengaruhi pelajaran, tujuanlah yang mempengaruhi fasilitas, tujuan yang mempengaruhi metode dan pola asuh. Semuanya bergantung pada tujuan.
Oleh karena itu, kalau kita ingin sukses menjadi seorang ayah, ibu, guru, pendidik, atau membangun sebuah sekolah pastikan dari awal apa tujuannya.
Makanya salah satu kekeliruan seseorang yang ketika survei suatu sekolah yang pertama kali ditanyakan adalah fasilitas, fasilitas penting tapi bukan hal yang paling penting. Yang paling pertama harus ditanyakan adalah tujuan. Kita ambil contoh lagi, ketika kita melihat sebuah bus, dan kita sedang berdiri di halte jangan memperdebatkan ini bus ada AC nya atau tidak, tapi tanyakan bus ini mau kemana tujuannya. Itu yang pertama kali harus kita tetapkan. Ketika kita mau beli tiket pastikan tujuan kita tepat tidak perlu bicara apakah tempat duduk di kelas bisnis masih ada atau tidak, tidak perlu langsung berbicara apakah ada `first class` atau tidak. Pastikan dulu pesawat yang akan kita naiki sesuai dengan tujuan yang kita mau. Adapun fasilitasnya itu berikutnya.
Oleh karena itu, pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, ketika Allah dan nabinya Shalallahu `alaihi wa salam berbicara pendidikan, berbicara tentang anak, berbicara tentang buah hati sangat jelas. Yang disorot di dalam Alquran dan sunnah, yang pertama kali adalah TUJUAN, sebelum yang lain. Bukan sekolah itu mahal atau murah, bukan berapa banyak lapangannya, bukan ada kolam renang atau tidak, bukan yang lain - lain, melainkan adalah TUJUAN.
Allah Subhanahu wa ta`ala berfirman dalam QS. At Tahrim ayat 6,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka.”
Inilah firman Allah ketika berbicara tentang keluarga, tentang anak, tentang buah hati, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka.
Dari sinilah lahir sebuah TUJUAN PENDIDIKAN, tujuan pendidikan adalah menjauhkan dan menjaga anak - anak kita dari siksa api neraka. Bukan pinter bahasa inggris, itu bukan tujuan pendidikan. Ada salah satu sekolah yang bertujuan untuk menjadikan khalifah yang pinter berbahasa inggris. pertanyaannya apa hubungannya jadi khalifah dengan bahasa inggris. Kalau khalifah bisa dengan bahasa inggris itu orang - orang british seharusnya jadi pemimpin, ternyata enggak. Ternyata banyak mereka yang rusak, dan yang jadi pemimpin juga tidak bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta`ala.
Banyak orang masuk ke sekolah karena bertaraf internasional, bukan. Tujuan pendidikan adalah menjaga anak - anak kita dari api neraka. Yang paling mengerti pendidikan Rabbul `alamin, yang paling mengerti anak - anak kita, tumbuh kembang mereka, perkembangan fisik atau psikis mereka adalah Al Khalik Pencipta mereka, maka kembalilah kepada Alquran, kembalilah kepada konsepnya Allah Subhanahu wa ta`ala. Jagalah diri kalian serta keluarga kalian dari siksa api neraka. Ini tujuan pendidikan.
Oleh karena itu para orang tua kita harus melakukan banyak hal agar anak kita lolos dari siksa api neraka, agar anak kita masuk ke dalam syurga. Tujuan pendidikan masuk ke dalam syurga. Dan ketika kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah, pertanyaannya adalah apakah konsep dan sistem sekolah menunjang dan mensupport kita sebagai orang tua untuk mencapai tujuan tersebut. Masuk ke dalam syurga dan lolos dari siksa api neraka. Itu yang menjadi masalah, PR besar dan yang harus kita pastikan ketika kita mendidik anak, bukan yang lain. Yang lain bisa menyusul, dan begitu juga dengan pihak sekolah, pada saat kita membangun sebuah sekolah usia dini misalnya TK, SD, dan seterusnya. Mulai dari yayasan sampai guru pastikan ketika kita bergabung ke sekolah tersebut PR besar kita bagaimana anak - anak didik kita lolos dari siksa api neraka, bagaimana anak - anak didik kita masuk ke dalam syurga Allah Subhanahu wa ta`ala.
Apa basic atau dasar yang bisa kita tanamkan ke dalam hati mereka?, apa konsep yang bisa berikan pada saat mereka kecil, sehingga menjadi pondasi yang matang dan ketika mereka aqil baligh mereka bisa menjaga diri mereka dan masuk ke dalam syurga Allah Subhanahu wa ta`ala. Ayat yang lain para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, doa yang selalu kita baca, orang tua enggak boleh lupa baca doa ini, yaitu QS. Al Furqan ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al-Furqan: 74)
Bahwa orang - orang beriman itu selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta`ala, dengan doa diatas. kemudian anak menjadi suatu kebahagian bagi kita ketika mereka ta`at kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Dan anak menjadi kebahagian kita di akhirat kelak nanti ketika mereka masuk ke dalam syurga. Nah itulah TUJUAN.
Kita punya anak itu biar kita bahagia, bukan ngerepotin, bukan nanti ngelunjak, bukan nanti durhaka, bukan nanti galakan dia daripada kita. Tujuan kita punya anak itu agar kita bahagia, dan bagaimana agar kita bahagia dia harus ta`at kepada Allah. Dan dengan dia ta`at kepada Allah, dia akan berbakti kepada kita di dunia dan dia akan mendoakan kita pada saat kita meninggal dunia, dan dia akan masuk ke dalam syurga bahkan mungkin akan memasukkan kita ke dalam syurga saat kita di hari kiamat kelak. Itu tujuan kita memiliki buah hati tersebut.
Oleh karena itu para orang tua, pendidik, ini yang harus ada di benak semua pendidik. Tujuan kita mencetak anak yang ta`at kepada Allah, anak yang sholeh, sehingga dia membahagiakan orang tuanya setelah dia membahagiakan diri mereka sendiri dan pada hari kiamat nanti dia akan masuk ke dalam syurga. Ini tujuan utama dari sebuah pendidikan. Pendidikan di rumah dan pendidikan di sekolah.
Apalagi sekolah yang bernafaskan sekolah Islam, dia harus tahu tujuan ini. Dan tujuan ini tidaklah mudah, tujuan ini berat, tujuan ini sulit, dan banyak yang gagal, banyak yang jatuh, bahkan yang sukses hanya minoritas. Hanya minoritas orang tua dan minoritas pendidik yang berhasil menjalankan misi ini sehingga sampai kepada tujuannya tersebut. Karena banyak ayat, banyak hadist mengatakan bahwa mayoritas orang tidak ta`at kepada Allah, mayoritas orang tidak bersyukur kepada Allah. Makanya ketika Allah dan RasulNya menjelaskan tentang orang - orang yang ta`at apa kata nabi Shalallahu `alaihi wa salam;
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).
Orang asing itu artinya minoritas, orang asing itu artinya sedikit, tapi beruntunglah orang yang dianggap asing tersebut. Ini menunjukkan PR kita berat, PR kita susah. Dan orang tua yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta`ala, fakta ulama menyatakan jika terjadi kegagalan pada seseorang anak atau manusia ketika dia dewasa dan jika seorang anak gagal masuk syurga, gagal menjadi sholeh, gagal menjadi ta`at, tujuannya tidak terpenuhi, maka yang pertama kali harus bertanggung jawab adalah orang tua. Ini disampaikan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Tuhfatul Maudud. Beliau menyatakan hasil riset, hasil penelitian beliau sekaligus didukung oleh ayat - ayat Alquran dan hadist nabi Shalallahu `alaihi wa salam.
bersambung insyaAllah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar