Siapa diantara kalian yang sudah memprediksi waktu kalian duduk di bangku SD tahun 1990, di tahun 2017 kalian sudah tahu posisi kalian yang sekarang ini, enggak kan ?, kita blank, buta. Yang penting adalah kita menjadi beriman dan bertaqwa. Karena Allah berfirman tentang orang yang beriman dan bertaqwa
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allâh, niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya…” [ath-Thalâq/65:2-3]
Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar tuh, tapi kalau hanya diajarkan sebuah disiplin ilmu itu belum tentu bisa dipakai nanti pada hari dia dewasa. Apalagi semua berubah, teknologi berubah. Jangankan kita para pakar aja banyak yang bangkrut, karena sekali lagi apa yang sudah mereka pelajari, itu ternyata sudah kadaluarsa. Saya ingin tanya apa merk handphone di era tahun 1990-an?, apa yang merajai `Nokia`, sekarang ada gak ? hancur. Fuji film hilang, udah gak kepake. artinya jangan mengandalkan ilmu yang canggih pada hari ini, karena masa depan belum tentu terpakai dan sudah banyak buktinya. Tapi IMAN tidak ada kadaluarsa, iman tidak ada expired, iman yang menggaransi Allah, sesuai ayat tersebut diatas, Allah akan memberikan solusi - solusi atas kehidupannya.
Kalau dari sedini mungkin anak kita sudah kita bekali IMAN, maka dia akan bisa survive pada saat nanti. Berapa banyak bidang studi yang waktu diraport kita dapat 9, 8, gak kepake?, bukan merendahkan tapi itu hakikatnya. Tapi IMAN selalu kepake nih, iman semenjak zaman Nabi Muhammad Shalallahu `alaihi wassalam itu kepake. Jadi, kita harus berfikir jernih, mana yang harus kita prioritaskan. Adapaun metode - metode atau konsep - konsep itu sering hilang, tapi iman pasti kepake.
Siapa yang masih ingat rumus luas trapesium ?, kenapa antum bisa lupa ?, jawabannya satu karena enggak kepake. ini bukan menjatuhkan matematika, salah satu filosofi matematika adalah membangun pola pikir dan problem solver untuk masalah itu benar. tapi saya ingin mengatakan, kenapa sih kita ambisi dengan nilai nilai nilai dan nilai ?, anakku harus jago matematika, jago fisika, dll. Jadi ada banyak cara tapi yang penting apa gol nya ?.
Jadi ketika kita punya anak atau ketika ingin memasukkan anak kita ke sekolah, bisa gak kita bareng2 mencetak seorang anak yang beriman, itu yang terpenting. Sehingga apapun masalah hidupnya dimasa yang akan datang dia punya solusinya. karena mau ngajarin apa saja bakalan berubah, semua berubah.
Makanya dibeberapa bidang kalau ada perangkat baru, harus kursus baru lagi. kalau alatnya dari Jerman berangkatlah ke Jerman, mempelajari alat tersebut. dan Ilmu tentang alat yang lama kepake apa enggak ?, kebuang. mungkin sudah menghabiskan 20 juta, 30 juta, 50 juta. Tapi kalau antum habiskan 50 juta untuk belajar iman gak akan kebuang. Demi Allah akan kepake sampai hari kiamat kelak. Itu yang harus dicamkan Iman sebelum Alquran.
Adapun yang lain cepat, kapanpun antum bisa, langsung bisa. Dan coba antum liat ke diri kita sendiri deh, sebagian kita yang banting setir, yang pekerjaannya sekarang berbeda dengan apa yang dipelajari di pendidikan formalnya, itu kan banyak. Sebelum banting setir dan menggeluti, paling dia belajar satu tahun, paling dua tahun, dan dia jadi spesialis.
Makanya, dalam ilmu motivasi ada istilah masterpiece, apabila seseorang ingin menjadi master di sebuah bidang, maka dia haru geluti bidang tersebut, berapa jam? 10ribu jam. Jadi mau bidang apa saja, kalau sudah 10ribu jam maka anda akan jadi master, asal itu aja yang anda geluti. Yang saya pahami, kalau saya salah mohon diluruskan untuk yang satu ini, jadi saya nggak bawa dalil untuk ini. Untuk menguasai ILMU DUNIA atau untuk sukses disebuah bidang kita gak perlu rangking satu disetiap mata pelajaran, cukup cari satu pelajaran yang sesuai dengan bakat kita, fokus disana, dan pelajari dari A sampai Z, dalam waktu yang cukup, maka kita akan sukses dibidang tersebut, dan otomatis dunia kita akan tercukupi. Betul apa tidak ?, antum setuju gak ?,
Berbeda dengan apa yang ditawarkan sekarang, kita ni disibukkan dengan semuanya, makanya kritik dari pakar pendidikan tentang kurikulum kita itu apa ?, yaitu terlalu banyak, terlalu bias. gak fokus. Belajarnya gitu - gitu aja dan gak fokus. Kita harus belajar, eksak, sosial, bahasa. Saya mau tanya sama antum ?, antum matematikan dapat nilai 3, fisika 2, kimia 1.5, tapi bahasa inggris antum british dan cas cis cus, bisa hidup gak di Jakarta ?, hidup.
Antum gak butuh yang lain, antum gak bisa bahasa Jepang, Cina, Arab, Prancis, tapi Inggris antum kayak air yang mengalir, antum bisa survive apa tidak ?, antum bisa survive. Oke, antum gak bisa bahasa inggris, bahasa arab, tapi bahasa Prancis antum jago banget, kira2 kehidupannya prihatin atau hidup layak ?, Jadi antum tinggal pegang satu aja. Oke itu dalam dunia bahasa. kita cari dunia yang lain, dunia kuliner, kita gak punya keahlian, gak jago matematika, gak jago bahasa, gak jago ilmu komunikasi, tapi kita bisa buat bakmi yang sangat enak. kira2 penghasilan kita sebulan berapa?, Bakmi GM, berapa penghasilan sebulan?,
Kenapa kita haru kuasain semuanya ?, gak harus, ambil satu. Yang harus kita kuasai semuanya itu adalah IMAN, IBADAH itu harus konprehensif, Ahlak, Agama kita harus kuat semuanya tuh. Aqidah tanpa Ahlak bermasalah. Ahlak tanpak aqidah bermasalah. Tapi dunia, antum tidak harus kuasai semuanya. Walaupun gak haram menguasai semunya. tapi kan waktu habis, lihat anak - anak zaman sekarang waktu habis, tapi gak ngerti cara sholat, gak ngerti ma`rifatullah, karena dicecar dengan semuanya. Guru biologi kasih PR, guru fisika, matematika, geografi kasih PR juga. Dan nanti belum tentu kepake. Iya apa nggak siy?,
Coba nich ya, antum kasih PR matematika aljabar ke CR7, Messi pemain bola, kira2 bisa gak ?, belum tentu. Dia cuman ngandalin kaki karena bakanya di sepak bola. Berapa gaji per bulan ? itu kan dunia disitu. Dunia itu pilih salah satu bidang, anda geluti, anda profesional, lalu waktu yang tersisa digunakan untuk mempelajari agama, anda habiskan untuk hafalkan alquran setelah perdalam keimanan.
Tapi sekarang tidak, kita dijauhkan dengan agama kita dengan program yang sangat banyak. Dan pada akhirnya belum tentu terpakai. IMAN pasti terpakai. oleh karena itu pastikan kita memiliki iman. Dulu para sahabat kenapa mereka bisa sukses, karena mereka belajar seperti itu. Dan lihat konsep nabi dan para sahabat. Nabi melakukan klasifikasi, Khalid bin Walid gak disuruh memperdalam hadist, karena bakatnya bukan itu, bakat Khalid bin Walid apa ?, perang. Jadi dibidang itu saja, disuruh perang. Dan benar gak pernah kalah. Klo kita kan kebanyakan materi, akhirnya gak jadi pakar. dunia pada saat ini, itu sudah berbicara tentang spesialisasi, dan semakin dini semakin efektif kita berbicara. Dan itu konsep nabi kita shalallahu `alaihi wassalam.
Abu Hurairah gak disuruh pegang perang, gak disuruh bisnis, disuruh hafalin hadist, karena itu spesialisasinya. gak disuruh perang. Itulah konsep nabi kita.
Yang terakhir, selain IMAN, pondasi pendidikan islam ada pada adab. ada pada akhlak. dan ini karakter para ulama terdahulu kita, dan karakter dunia pendidikan, sekaligus indikator dunia pendidikan. itu ada pada akhlak. ada pada adab. ada pada karakter, karena ini yang difokuskan. sebelum ilmu - ilmu secara teori. Abdullah bin Mubarok, seorang tabi`in menjelaskan bagaimana para sabahat dan tabi`in belajar, beliau mengatakan dulu para sabahat dan tabi`in mereka mempelajari adab sebelum mereka mempelajarai ilmu, sebelum hafalan quran, sebelum berbagai macam teori - teori tajwid, sebelum mempelajari rukun - rukun sholat. Adab sebelum ilmu. itu yang membuat mereka sukses. Muhammad bin Sirin mempunya statement yang hampir sama, mereka mempelajari Adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.
Adab sebelum ilmu, makanya indikator sekolah pada zaman klasik itu bukan nilai matematika 9, bukan sudah hafal juz 28, apa indikatornya ?, Hasan Al Basri mengatakan indikatornya dahulu orang tu kalo belajar, kalo sekolah, itu ada indikatornya. apa siy?, yang pertama kekhusuk-annya terlihat. Khusuk ketika sholat, ketika menghadapi masalah, gak panikan, gak grogian, tenang dia. dan Akhlaknya bagus.
Jadi kalau ada yang bilang selama anak saya sekolah satu tahun disini tu, gak ada bentak - bentak lagi ama orang tua, nah itu tu yang menjadi indikator, akhlaknya bagus, terus lisannya, tutur katanya santun lemah lembut. gak suka ngabsenin nama - nama hewan di ragunan. Dan tangannya pun jadi berubah, gak suka nyubit adiknya, gak suka lempar - lempar mainannya, gak suka mukul, gak suka nge bully, itu ulama - ulama kita terdahulu. Mereka melihat bukan dari angka, karena pendidikan tujuannya bukan LULUS UN. pendidikan tujuannya memasukkan orang ke syurga. itu pendidikan. Itu kalau kita ingin berbicara Islam. Jadi parameternya bukan hafalan, jago nya bahasa arab. Buat apa anak kita jago bahasa arab tapi gak beriman. Abu Lahab juga jago bahasa arabnya, klo tujuannya buat bahasa arabnya jago buat apa anda sekolahkan. Abu Jahal jago bahasa arab. Tapi iman yang susah, iman yang berat, itu IMAN.
Sekali lagi ini bukan mengkritik program hafalan, tapi statemen kita kalau hanya mengandalkan hafalan kalau hanya bangga dengan hafalan. Buat apa munafik dengan banyak hafalan kalau tidak ditanamkan keimanan. Karena tidak ditanamkan keikhalasan, akhirnya hafalan 30 juz nya membuat dia riya, membuat dia sum`ah, membuat dia ujub, membuat dia hanya mencintai dunia. Gak da gunanya, mending dia gak hafal semuanya. Intinya adalah akhlak dan aqidah, sebelum yang lain. Semua ada solusinya kalau akhlak dan aqidah ini kuat. kalau iman ini bagus, jadi ini yang terpenting. Ini indikatornya, kekhusyuk-an, akhlak, lisan, karena kalau iman baik, lisan pasti baik.
Kalau ini bisa kita dapatkan, maka anak yang sholeh bukan impian, namun kenyataan.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allâh, niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya…” [ath-Thalâq/65:2-3]
Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar tuh, tapi kalau hanya diajarkan sebuah disiplin ilmu itu belum tentu bisa dipakai nanti pada hari dia dewasa. Apalagi semua berubah, teknologi berubah. Jangankan kita para pakar aja banyak yang bangkrut, karena sekali lagi apa yang sudah mereka pelajari, itu ternyata sudah kadaluarsa. Saya ingin tanya apa merk handphone di era tahun 1990-an?, apa yang merajai `Nokia`, sekarang ada gak ? hancur. Fuji film hilang, udah gak kepake. artinya jangan mengandalkan ilmu yang canggih pada hari ini, karena masa depan belum tentu terpakai dan sudah banyak buktinya. Tapi IMAN tidak ada kadaluarsa, iman tidak ada expired, iman yang menggaransi Allah, sesuai ayat tersebut diatas, Allah akan memberikan solusi - solusi atas kehidupannya.
Kalau dari sedini mungkin anak kita sudah kita bekali IMAN, maka dia akan bisa survive pada saat nanti. Berapa banyak bidang studi yang waktu diraport kita dapat 9, 8, gak kepake?, bukan merendahkan tapi itu hakikatnya. Tapi IMAN selalu kepake nih, iman semenjak zaman Nabi Muhammad Shalallahu `alaihi wassalam itu kepake. Jadi, kita harus berfikir jernih, mana yang harus kita prioritaskan. Adapaun metode - metode atau konsep - konsep itu sering hilang, tapi iman pasti kepake.
Siapa yang masih ingat rumus luas trapesium ?, kenapa antum bisa lupa ?, jawabannya satu karena enggak kepake. ini bukan menjatuhkan matematika, salah satu filosofi matematika adalah membangun pola pikir dan problem solver untuk masalah itu benar. tapi saya ingin mengatakan, kenapa sih kita ambisi dengan nilai nilai nilai dan nilai ?, anakku harus jago matematika, jago fisika, dll. Jadi ada banyak cara tapi yang penting apa gol nya ?.
Jadi ketika kita punya anak atau ketika ingin memasukkan anak kita ke sekolah, bisa gak kita bareng2 mencetak seorang anak yang beriman, itu yang terpenting. Sehingga apapun masalah hidupnya dimasa yang akan datang dia punya solusinya. karena mau ngajarin apa saja bakalan berubah, semua berubah.
Makanya dibeberapa bidang kalau ada perangkat baru, harus kursus baru lagi. kalau alatnya dari Jerman berangkatlah ke Jerman, mempelajari alat tersebut. dan Ilmu tentang alat yang lama kepake apa enggak ?, kebuang. mungkin sudah menghabiskan 20 juta, 30 juta, 50 juta. Tapi kalau antum habiskan 50 juta untuk belajar iman gak akan kebuang. Demi Allah akan kepake sampai hari kiamat kelak. Itu yang harus dicamkan Iman sebelum Alquran.
Adapun yang lain cepat, kapanpun antum bisa, langsung bisa. Dan coba antum liat ke diri kita sendiri deh, sebagian kita yang banting setir, yang pekerjaannya sekarang berbeda dengan apa yang dipelajari di pendidikan formalnya, itu kan banyak. Sebelum banting setir dan menggeluti, paling dia belajar satu tahun, paling dua tahun, dan dia jadi spesialis.
Makanya, dalam ilmu motivasi ada istilah masterpiece, apabila seseorang ingin menjadi master di sebuah bidang, maka dia haru geluti bidang tersebut, berapa jam? 10ribu jam. Jadi mau bidang apa saja, kalau sudah 10ribu jam maka anda akan jadi master, asal itu aja yang anda geluti. Yang saya pahami, kalau saya salah mohon diluruskan untuk yang satu ini, jadi saya nggak bawa dalil untuk ini. Untuk menguasai ILMU DUNIA atau untuk sukses disebuah bidang kita gak perlu rangking satu disetiap mata pelajaran, cukup cari satu pelajaran yang sesuai dengan bakat kita, fokus disana, dan pelajari dari A sampai Z, dalam waktu yang cukup, maka kita akan sukses dibidang tersebut, dan otomatis dunia kita akan tercukupi. Betul apa tidak ?, antum setuju gak ?,
Berbeda dengan apa yang ditawarkan sekarang, kita ni disibukkan dengan semuanya, makanya kritik dari pakar pendidikan tentang kurikulum kita itu apa ?, yaitu terlalu banyak, terlalu bias. gak fokus. Belajarnya gitu - gitu aja dan gak fokus. Kita harus belajar, eksak, sosial, bahasa. Saya mau tanya sama antum ?, antum matematikan dapat nilai 3, fisika 2, kimia 1.5, tapi bahasa inggris antum british dan cas cis cus, bisa hidup gak di Jakarta ?, hidup.
Antum gak butuh yang lain, antum gak bisa bahasa Jepang, Cina, Arab, Prancis, tapi Inggris antum kayak air yang mengalir, antum bisa survive apa tidak ?, antum bisa survive. Oke, antum gak bisa bahasa inggris, bahasa arab, tapi bahasa Prancis antum jago banget, kira2 kehidupannya prihatin atau hidup layak ?, Jadi antum tinggal pegang satu aja. Oke itu dalam dunia bahasa. kita cari dunia yang lain, dunia kuliner, kita gak punya keahlian, gak jago matematika, gak jago bahasa, gak jago ilmu komunikasi, tapi kita bisa buat bakmi yang sangat enak. kira2 penghasilan kita sebulan berapa?, Bakmi GM, berapa penghasilan sebulan?,
Kenapa kita haru kuasain semuanya ?, gak harus, ambil satu. Yang harus kita kuasai semuanya itu adalah IMAN, IBADAH itu harus konprehensif, Ahlak, Agama kita harus kuat semuanya tuh. Aqidah tanpa Ahlak bermasalah. Ahlak tanpak aqidah bermasalah. Tapi dunia, antum tidak harus kuasai semuanya. Walaupun gak haram menguasai semunya. tapi kan waktu habis, lihat anak - anak zaman sekarang waktu habis, tapi gak ngerti cara sholat, gak ngerti ma`rifatullah, karena dicecar dengan semuanya. Guru biologi kasih PR, guru fisika, matematika, geografi kasih PR juga. Dan nanti belum tentu kepake. Iya apa nggak siy?,
Coba nich ya, antum kasih PR matematika aljabar ke CR7, Messi pemain bola, kira2 bisa gak ?, belum tentu. Dia cuman ngandalin kaki karena bakanya di sepak bola. Berapa gaji per bulan ? itu kan dunia disitu. Dunia itu pilih salah satu bidang, anda geluti, anda profesional, lalu waktu yang tersisa digunakan untuk mempelajari agama, anda habiskan untuk hafalkan alquran setelah perdalam keimanan.
Tapi sekarang tidak, kita dijauhkan dengan agama kita dengan program yang sangat banyak. Dan pada akhirnya belum tentu terpakai. IMAN pasti terpakai. oleh karena itu pastikan kita memiliki iman. Dulu para sahabat kenapa mereka bisa sukses, karena mereka belajar seperti itu. Dan lihat konsep nabi dan para sahabat. Nabi melakukan klasifikasi, Khalid bin Walid gak disuruh memperdalam hadist, karena bakatnya bukan itu, bakat Khalid bin Walid apa ?, perang. Jadi dibidang itu saja, disuruh perang. Dan benar gak pernah kalah. Klo kita kan kebanyakan materi, akhirnya gak jadi pakar. dunia pada saat ini, itu sudah berbicara tentang spesialisasi, dan semakin dini semakin efektif kita berbicara. Dan itu konsep nabi kita shalallahu `alaihi wassalam.
Abu Hurairah gak disuruh pegang perang, gak disuruh bisnis, disuruh hafalin hadist, karena itu spesialisasinya. gak disuruh perang. Itulah konsep nabi kita.
Yang terakhir, selain IMAN, pondasi pendidikan islam ada pada adab. ada pada akhlak. dan ini karakter para ulama terdahulu kita, dan karakter dunia pendidikan, sekaligus indikator dunia pendidikan. itu ada pada akhlak. ada pada adab. ada pada karakter, karena ini yang difokuskan. sebelum ilmu - ilmu secara teori. Abdullah bin Mubarok, seorang tabi`in menjelaskan bagaimana para sabahat dan tabi`in belajar, beliau mengatakan dulu para sabahat dan tabi`in mereka mempelajari adab sebelum mereka mempelajarai ilmu, sebelum hafalan quran, sebelum berbagai macam teori - teori tajwid, sebelum mempelajari rukun - rukun sholat. Adab sebelum ilmu. itu yang membuat mereka sukses. Muhammad bin Sirin mempunya statement yang hampir sama, mereka mempelajari Adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.
Adab sebelum ilmu, makanya indikator sekolah pada zaman klasik itu bukan nilai matematika 9, bukan sudah hafal juz 28, apa indikatornya ?, Hasan Al Basri mengatakan indikatornya dahulu orang tu kalo belajar, kalo sekolah, itu ada indikatornya. apa siy?, yang pertama kekhusuk-annya terlihat. Khusuk ketika sholat, ketika menghadapi masalah, gak panikan, gak grogian, tenang dia. dan Akhlaknya bagus.
Jadi kalau ada yang bilang selama anak saya sekolah satu tahun disini tu, gak ada bentak - bentak lagi ama orang tua, nah itu tu yang menjadi indikator, akhlaknya bagus, terus lisannya, tutur katanya santun lemah lembut. gak suka ngabsenin nama - nama hewan di ragunan. Dan tangannya pun jadi berubah, gak suka nyubit adiknya, gak suka lempar - lempar mainannya, gak suka mukul, gak suka nge bully, itu ulama - ulama kita terdahulu. Mereka melihat bukan dari angka, karena pendidikan tujuannya bukan LULUS UN. pendidikan tujuannya memasukkan orang ke syurga. itu pendidikan. Itu kalau kita ingin berbicara Islam. Jadi parameternya bukan hafalan, jago nya bahasa arab. Buat apa anak kita jago bahasa arab tapi gak beriman. Abu Lahab juga jago bahasa arabnya, klo tujuannya buat bahasa arabnya jago buat apa anda sekolahkan. Abu Jahal jago bahasa arab. Tapi iman yang susah, iman yang berat, itu IMAN.
Sekali lagi ini bukan mengkritik program hafalan, tapi statemen kita kalau hanya mengandalkan hafalan kalau hanya bangga dengan hafalan. Buat apa munafik dengan banyak hafalan kalau tidak ditanamkan keimanan. Karena tidak ditanamkan keikhalasan, akhirnya hafalan 30 juz nya membuat dia riya, membuat dia sum`ah, membuat dia ujub, membuat dia hanya mencintai dunia. Gak da gunanya, mending dia gak hafal semuanya. Intinya adalah akhlak dan aqidah, sebelum yang lain. Semua ada solusinya kalau akhlak dan aqidah ini kuat. kalau iman ini bagus, jadi ini yang terpenting. Ini indikatornya, kekhusyuk-an, akhlak, lisan, karena kalau iman baik, lisan pasti baik.
Kalau ini bisa kita dapatkan, maka anak yang sholeh bukan impian, namun kenyataan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar